Kita tahu bagaimana fluktuasi harga, volatilitas, dan ketidakpastian di pasar kopi global dapat membahayakan petani. Petani kopi sering menjadi “penerima harga” yang memiliki sedikit ruang untuk bernegosiasi. Pada saat yang sama, dalam dekade terakhir, kita dapat melihat adanya pertumbuhan konsumsi internal di negara-negara penghasil kopi, terutama di Brasil mengikuti proyek yang dipimpin oleh Associação Brasileira da Indústria de Café (ABIC) selama 15 tahun. Saat ini juga semakin banyak diskusi tentang bagaimana peningkatan konsumsi internal dapat membuat sektor kopi lebih berkelanjutan. Diskusi ini sangat relevan dengan Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia dan dilihat dari sejarahnya telah mengekspor sebagian besar hasil panennya. Tetapi Indonesia berada dalam situasi yang sulit di mana ekspor kopinya terus menurun sejak 2013.

Apa saja penyebabnya? Berikut sebuah rangkuman diskusi oleh para pakar yang dilansir dari perfectdailygrind.com.


Produksi Kopi di Indonesia

Meskipun volume produksinya besar, kopi jarang ditanam sebagai tanaman tunggal di Indonesia. Biasanya kopi ditanam bersama tanaman lain seperti jeruk atau tembakau, misalnya. Hal ini berarti bahwa petani Indonesia dapat dengan cepat beralih ke tanaman lain jika kopi mengalami gagal panen atau tidak berkelanjutan secara finansial (dan juga mereka dapat dengan cepat beralih ke menanam kopi jika tanaman lain gagal).

Seorang profesor sekaligus peneliti bernama Jeffrey Neilson yang memiliki fokus pada geografi ekonomi, tata kelola lingkungan, dan pembangunan pedesaan di Indonesia dan Asia Tenggara mengatakan, bahwa produksi kopi adalah pertanian subsisten di Indonesia. Menurutnya, para petani kopi Indonesia umumnya tidak melihat produksi kopi sebagai cara untuk memperkaya diri namun mereka melihatnya sebagai cara untuk bertahan hidup.

Jeffrey Neilson juga mencatat bahwa tidak banyak ruang untuk berinvestasi dalam produksi kopi bagi petani kecil di Indonesia. Jika mereka memperoleh penghasilan tambahan dari hasil panen satu tahun, mereka lebih memilih untuk meningkatkan kondisi kehidupan daripada berinvestasi di lahan pertanian atau peralatan mereka. Selain itu, karena kurangnya lahan pertanian yang tersedia, sedikit otomatisasi, dan buruknya infrastruktur transportasi membuat biaya produksi kopi Indonesia menjadi semakin meningkat.



Petani Kecil di Indonesia

Seperti di beberapa negara produsen lainnya di dunia, produsen kopi Indonesia sebagian besar merupakan petani kecil. Win Hasnawi, seorang petani kopi dan distributor kopi Gayo di Qertoev Coffee mengatakan, petani di Indonesia biasanya hanya memiliki lahan sebesar satu atau dua hektar. Di pertanian yang lebih besar, kita dapat menanam kembali sebagian dari tanaman kopi lama dan dapat berinvestasi dari sisa panen tanaman tersebut. Seiring berjalannya waktu, siklus penanaman kembali yang berkelanjutan membuat tanaman tetap muda dan produktif. Namun, bagi petani kecil, semuanya berbeda. Penanaman kembali praktis menjadi sulit dan justru akan kehilangan sebagian kecil dari hasil panen yang tidak layak secara finansial.

Win Hasnawi juga mengatakan bahwa adanya perubahan iklim dan cuaca panas menyebabkan jumlah lahan pertanian yang tersedia menyusut. Jika petani dapat melakukan penanaman kembali akan dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum petani dapat memanen tanaman baru. Infrastruktur pertanian kopi di Indonesia pun seringkali minim. Perkebunan kopi berada di pegunungan, seringkali dengan kemiringan 45 atau bahkan 90 derajat sehingga lebih sulit untuk membangun infrastruktur yang memadai untuk pemrosesan dan transportasi.



Mengapa Jumlah Ekspor Kopi Menurun?

Tidak ada jawaban pasti mengapa ekspor kopi Indonesia menurun yang tentu saja bukan hanya karena kenaikan biaya produksi. Awalnya, kondisi cuaca buruk menjadi penyebab rendahnya produktivitas dalam beberapa tahun termasuk 2016/17 dan 2018/19. Sejak itu, produksi kopi secara keseluruhan telah memulih. Namun dalam sebuah makalah berjudul The Journal of Industrial and Beverage Crops tahun 2018 menyatakan bahwa meskipun kopi Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar (dibandingkan dengan negara asal seperti Vietnam dan India) dari tahun 2000 hingga 2015 masih belum cukup. Makalah ini juga mencatat bahwa peningkatan kualitas, penghapusan biaya operasi di pelabuhan, penghapusan pajak, kredit ekspor berbunga rendah dan penetrasi pasar ke negara lain sebagai peluang ekspor kopi Indonesia.

Benji Salim, yang bekerja untuk The Q Coffee Trading dan memiliki pengalaman luas mengimpor kopi dari Indonesia ke Australia mengatakan bahwa kopi Indonesia lebih mahal jika dibandingkan negara penghasil kopi lainnya. Para petani kita pun tidak akan melepaskan hasil panen mereka jika mereka tidak menyukai harga yang diajukan serta dengan mudah beralih untuk menanam hasil bumi yang lain.

Namun pada akhirnya, konsumsi domestik di kota-kota besar seperti Jakarta mulai tumbuh. Pada tahun 2019, Layanan Pertanian Luar Negeri USDA melaporkan bahwa hal ini berkat permintaan yang kuat untuk produk kopi Ready To Drink. 

Jadi, dengan angka ekspor yang menurun dan pasar domestik yang mulai tumbuh ini menimbulkan pertanyaan menarik bagi produsen Indonesia. Dimana peluangnya?



Bagaimana Masa Depan Kopi Tanah Air?

Jeffrey mencatat bahwa para petani kita ini tidak peduli apakah mereka menjual kopi mereka di pasar domestik atau untuk kegiatan ekspor karena ini semua tentang harga. Namun, Win berpendapat bahwa untuk kopi komersial, petani sebenarnya bisa memperoleh lebih banyak keuntungan jika menjualnya di dalam negeri dibandingkan dengan mengekspornya. Hal ini dikarenakan dengan menjual secara internal petani mampu mendapat permintaan yang kuat di dalam negeri. Ada juga standar kualitas yang lebih rendah untuk penjualan kopi domestik. Akhirnya, ketika menjual ke roaster di tempat-tempat seperti Jakarta, petani bisa lebih fleksibel dengan margin yang mereka harapkan karena biaya logistik yang cenderung lebih sedikit.

Jeffrey menambahkan, dengan ekspor, pasar yang akan didapatkan tentu akan lebih luas jangkauannya. Jika pemerintah  melarang kegiatan ekspor, misalnya, tentu akan berdampak negatif karena akan lebih banyak kopi yang beredar dan harga pun akan makin anjlog. Ia juga melihat bagaimana hal itu mempengaruhi kualitas karena pemantauan kualitas tidak sebaik di pasar ekspor yang berarti para petani mendapatkan harga yang lebih tinggi untuk kopi berkualitas lebih rendah yang akan berdampak negatif pada kualitas kopi dalam jangka panjang. Hal ini, pada gilirannya, semakin mempersulit pembeli di pasar internasional untuk membeli kopi Indonesia yang berkualitas baik.

Benji pun menyetujui gagasan tersebut dan mengatakan dia percaya bahwa standar internasional perlu menjadi tujuannya. Hal ini dapat mendorong “persaingan sehat” di antara produsen kopi dan membantu mereka semua bergerak maju. Bahkan, proses pasca panen giling basah yang merupakan metode warisan dalam negeri kini telah diakui di industri global dan diajarkan sebagai bagian dari pendidikan pengolahan kopi karena metode ini pun mampu menghasilkan profil cita rasa yang unik.

Bagaimana pun, jika konsumsi internal di Indonesia terus tumbuh, para petani mungkin menemukan bahwa pilihan memproduksi kopi untuk penjualan domestik menjadi semakin menarik. Lebih banyak opsi berarti lebih banyak stabilitas dan lebih banyak kontrol. Petani dapat beralih dari “penerima harga” menjadi negosiator dan mampu memilih di antara dua opsi saat menjual hasil panen mereka. Pada gilirannya, seperti yang dikatakan Benji dan Jeffrey, mungkin ada implikasinya terhadap kualitas dan kopi Indonesia. Satu hal yang pasti ini adalah situasi yang kompleks dan unik. Waktu yang akan menjawab dan kita akan melihat bagaimana perkembangannya, apakah pasar internal akan terus tumbuh atau apakah ekspor internasional menegaskan kembali dominasi mereka. Kita lihat saja.

Dukung petani Indonesia dengan mengonsumsi kualitas terbaik dari dalam negeri yang bisa kamu dapatkan di stradacoffee.com. Salam Kopi!


#kopiindonesia #stradacoffee #hirupseruputberbagi #ingatkopiingatstrada #kopiterbaiknusantara