Pada bulan November 2021 lalu, Strada Coffee menghadirkan paket kopi khusus dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang sebagian dari hasil penjualannya diserahkan kepada salah satu petani kopi di Jawa Tengah. Rupanya, paket yang diberi nama "Pejuang Kopi" tersebut disambut baik oleh para pecinta kopi Nusantara hingga terjual habis.

Maka pada Rabu, 22 Desember 2021 kemarin, tim Strada Coffee pun secara langsung mengunjungi Doesoen Kopi Sirap di Kabupaten Semarang untuk menyerahkan donasi yang telah terkumpul dari hasil penjualan paket Pejuang Kopi tersebut. Penyerahan diwakili oleh Mas Istaroh selaku roaster dari Strada Coffee dan diterima oleh Mas Wachid selaku perwakilan dari tim pengembang Doesoen Kopi Sirap. 

Selain itu, kami pun berkesempatan untuk melakukan wawancara singkat dengan mas Wachid mengenai sejarah dan perkembangan perkebunan kopi di Doesoen Kopi Sirap. Apa saja yang dibahas oleh tim dan Mas Wachid? Yuk simak hasil wawancaranya!


Bagaimana Asal Mula Pengembangan Robusta di Gunung Kelir?

Konon, dahulu lahan yang terbentang di Gunung Kelir merupakan lahan yang digunakan oleh para petani untuk menanam jagung. Para petani tersebut tergabung dalam kelompok tani di sekitar tahun 1992 atau 1993 namun sayangnya sempat mati suri. Memasuki tahun 2000an kelompok tersebut akhirnya bangkit kembali dan mulai mengubah ladang jagung menjadi lahan untuk menanam kopi. Pada tahun 2010, para petani pun belajar di Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu ( SLPHT ) yang merupakan salah satu metode penyuluhan yang berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan tata cara penanaman, perawatan serta proses pasca panen. 




Kopi Apa Saja yang Dikembangkan Di Doesoen Kopi Sirap?

Dari 40 hektar lahan yang dimiliki oleh para petani yang tergabung dalam kelompok tani, mayoritas kopi yang dikembangkan adalah Robusta. Namun mulai tahun 2021 ini, mereka juga mulai mengembangkan beberapa varietas kopi Arabica dengan tujuan agar mampu mendapatkan nilai lebih bagi para petani serta dapat masuk ke dalam pasar Specialty Coffee.


Varietas Kopi Apa Saja Yang Berhasil Ditanam dan Dikembangkan?

Varietas bibit unggu Robusta yang berhasil dikembangkan di sana adalah BP42, BP534, BP936. Ketiga varietas tersebut memiliki karakteristik dan rasa yang telah terjamin kualitasnya. Biasanya, panen Robusta dilakukan sebanyak satu kali dalam setahun yakni pada bulan Agustus - Oktober. Sedangkan untuk Arabika, varietas yang berhasil dikembangkan adalah Sigararutang, Gayo 2, Komasti dan Andungsari.


Apa Saja Kendala Yang Dialami Dalam Proses Pengembangan Kopi Arabika?

Dalam riset yang dilakukan 2 tahun lalu, yang menjadi kendala adalah bagaimana cara mencari varietas yang cocok dengan lahan yang ada di Gunung Kelir. Hal ini disebabkan oleh karena tanah yang berada di puncak, daerah tengah dan bawah memiliki jenis yang berbeda-beda sehingga harus mencari varietas yang sesuai dengan masing-masing jenis tanah. Jika jenis tanah dan varietasnya tidak cocok, maka hasil pohon kopinya menjadi tidak subur, kualitas rasa serta kandungan mineralnya pun akan menjadi kurang sehingga kurang baik untuk dikonsumsi.


Apa Saja Yang Harus Diperhatikan Dalam Menjaga Kualitas Dalam Proses Pengembangan Kopinya? 

Karena sudah terkenal dengan robustanya, maka kami selaku pengembang terus memberikan perhatian ekstra dan pendampingan kepada para petani agar mampu menghasilkan kualitas serta kuantitas kopi yang lebih baik. Dengan begitu, para petani pun bisa memperoleh jumlah panen yang banyak serta mendapatkan harga yang lebih layak. Pendampingan tersebut mulai dari proses tanam seperti jarak tanam, tanaman pelindung, kemudian pemupukan, pemangkasan, dan mengedukasi para petani untuk hanya memetik buah kopi yang sudah merah saat proses panen. Selain itu yang menjadi PR bagi para pengembang adalah bagaimana untuk terus meningkatkan jumlah panen, menambah varietas baru serta mengatasi adanya penyakit Nematoda (Parasit pada tanaman kopi).


Berapa Jumlah Panen Yang Dapat Diperoleh Dalam Satu Tahun?

Jumlah rata-rata panen di Gunung Kelir dengan ketersediaan lahan yang ada yakni untuk lahan yang kurang dari 1 hektar sekitar 1.5-1.8 ton dari total 40 hektar. Kapastitas panen 3 bulan terakhir yang dapat dijual sekitar 250 ton. Kopi-kopi tersebut didistribusikan ke perusahaan-perusahaan ekspor yang kemudian dikirim ke beberapa negara salah satunya ke Korea Selatan.

Nah, itulah wawancara singkat kami dengan Mas Wachid yang merupakan perwakilan dari tim pengembang kopi di Doesoen Kopi Sirap, Gunung Kelir. Semoga para petani Indonesia semakin maju dan kopi berkualitas terbaiknya pun dapat dinikmati oleh para pecinta kopi dari seluruh dunia. Salam kopi!

#kopiterbaiknusantara #hirupseruputberbagi #kopisirap #doesoenkopisirap #gunungkelir