Kopi tumbuh dan berkembang secara berbeda di seluruh dunia. Contohnya seperti varietas kopi yang tumbuh dengan baik di Ethiopia belum tentu bisa tumbuh subur di Indonesia. Berbagai faktor, seperti kelembaban, curah hujan, sinar matahari, ketinggian, dan karakteristik tanah, semuanya berdampak pada hasil dan kualitas tanaman kopi, yang akan sangat bervariasi berdasarkan varietas yang ditanam.

Itulah sebabnya, penting untuk mempelajari berbagai varietas yang tumbuh di negara atau wilayah pertumbuhan tertentu. Bagi para produsen, keputusan yang salah dapat merugikan dan mempengaruhi profitabilitas pertanian mereka untuk tahun-tahun mendatang. Sedangkan bagi para pedagang, memahami variasi kopi membuat mereka tahu tentang profil rasa yang dapat mereka harapkan dan memungkinkan mereka untuk memperkirakan harga secara akurat.

Jika kalian merupakan pecinta kopi tanah air, kalian akan menemukan kata 'S795' atau 'Kartika' sebagai keterangan varietas dari kopi tersebut yang biasa tercantum di stiker atau packagingnya. Lalu apakah arti dari kata-kata tersebut? Dilansir dari perfectdailygrind.com, kami mengambil empat varietas kopi yang populer di Indonesia berdasarkan penjelasan Dr. Retno Hulupi, peneliti senior dalam bidang Pemuliaan Kopi dari Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia.


S795


S795 adalah salah satu varietas kopi paling umum di Indonesia yang memiliki rasa yang berbeda dari sirup maple dan gula merah saat diseduh. Varietas ini diperkenalkan dari India ke sektor kopi Indonesia pada 1970-an. S795 biasa ditemukan di Bali dan Toraja (di mana penduduk setempat juga menyebutnya Jember).

Salah satu alasan mengapa S795 begitu populer sejak lama adalah karena dapat dibudidayakan dengan sangat mudah. Dr. Retno mengatakan, S795 adalah varietas kopi yang direkomendasikan untuk mereka yang baru mengenal kopi. Varietas ini tidak sulit untuk tumbuh, tidak membutuhkan banyak kompos, dan dapat tumbuh pada level yang berbeda-beda. Namun, meskipun memiliki catatan rasa yang khas, S795 sering dianggap tidak mampu menghasilkan kualitas tinggi seperti varietas Catuai, misalnya.

S795 sendiri adalah hasil persilangan antara Kent (mutasi alami Typica yang berasal dari India) dan spesies liberica yang tumbuh pada ketinggian yang jauh lebih rendah daripada tanaman arabika. DNA Liberica-lah yang memberi S795 sistem akar yang kuat dan hal inilah alasan mengapa S795 adalah pilihan yang baik di berbagai iklim mikro di Indonesia. Liberica juga yang membuat kopi ini memiliki kadar asam lebih sedikit dan terasa lebih 'mellow'. 


TIM TIM


Di Indonesia, Tim Tim adalah singkatan dari Timor Timur, sebuah wilayah di bagian selatan Indonesia yang dulunya merupakan bagian dari negara (sekarang Timor Timur, juga dikenal sebagai Timor-Leste). Tim Tim, juga dikenal sebagai Hibrido de Timor, yang merupakan persilangan alami antara arabika dan robusta yang pertama kali ditemukan pada awal abad ke-20. Varietas ini mulai menjadi populer pada 1950-an karena ketahanannya yang tinggi terhadap coffee leaf rust (karat pada daun yang disebabkan oleh jamur) dan berbagai penyakit lainnya.

Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengintegrasikan varietas Tim Tim di Indonesia, akhirnya diputuskan untuk menyebarkannya ke seluruh daerah penghasil arabika di tanah air namun hal ini menimbulkan adaptasi alami yang mulai muncul di setiap daerah. Di Gayo misalnya, Tim Tim menjadi Gayo 1 yang kini sudah dikenal oleh seantero Nusantara. Sebaliknya, di Bali, Tim Tim beradaptasi sehingga menjadi varietas yang berbeda yang disebut Kopyol.

Karena varietas ini merupakan persilangan arabika-robusta, beberapa ciri dari kedua spesies pun ada di dalamnya. Misalnya, hasil seduhan Tim Tim memiliki body tebal yang mengingatkan kita pada cita rasa robusta. 


KARTIKA


Di Indonesia, Kartika adalah singkatan dari Kopi Arabika Tipe Katai (yang diterjemahkan sebagai kopi arabika Catuai). Sebagai versi lokal dari varietas Catuai, Kartika sangat rentan terhadap karat kopi dan hama serta penyakit lainnya. Kartika pertama kali ditanam di Indonesia melalui uji varietas massal yang dilakukan oleh Centro de Investigacao das Ferrugens do Cafeirro Portugis pada tahun 1987. Kartika pada awalnya sangat populer karena profil rasanya yang berkualitas tinggi.

Dr. Retno menjelaskan bahwa saat varietas satu ini diperkenalkan ke para petani, ternyata Kartika membutuhkan banyak pupuk bahkan jauh lebih banyak dari yang biasanya diberikan yang tentu saja membuat petani Indonesia belum siap. sehingga varietas ini tidak sering direkomendasikan.

Namun Dr. Retno menambahkan, bahwa beberapa petani di Wonosobo, daerah penghasil kopi pegunungan di Jawa Tengah, sangat menyukai varietas ini. Pohon Kartika tumbuh dengan baik di sana dan (tampaknya) ada pasar lokal yang stabil juga.


ANDUNGSARI


Setelah Kartika, ada Andungsari. Menurut Dr. Retno, Andungsari adalah varietas kopi paling menarik di Indonesia saat ini. Mirip dengan Kartika, Andungsari (juga dikenal sebagai Andung Sari dan Andong Sari) adalah tanaman kopi kerdil yang awalnya dikembangkan melalui seleksi tanaman Catimor oleh Balai Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Andungsari tumbuh paling baik di atas 1.250 m.a.s.l.

Andungsari memiliki produktivitas yang tinggi, yakni sekitar 2,5 ton per hektar dengan profil yang sangat baik. Akan tetapi,  seperti halnya Kartika, varietas ini perlu perawatan yang sangat ekstra. Saat ini, varietas Andungsari banyak ditanam di daerah Kayo Aro di provinsi Jambi, Sumatera.


Itulah empat varietas kopi yang populer di tanah air yang kini dapat kita nikmati dengan mudah. Sangat penting bagi para petani dan produsen kopi agar tidak mencampur dan menanam varietas yang berbeda di perkebunan yang sama karena masing-masing memiliki karakter serta perawatan yang berdeda pula. Selain itu, para customer juga akan mendapat informasi yang jelas mengenai asal usul biji kopi yang mereka konsumsi.

Kita dapat membantu melestarikan kopi Nusantara dengan membeli biji kopi terbaik yang bisa diperoleh di Strada Coffee. Kalau kamu sendiri paling suka kopi dari daerah mana nih?


*Sumber gambar: perfectdailygrind.com